Label

Selasa, 21 September 2010

Progress Industri Petrokimia di Indonesia Agustus 2010

Studi Tentang :
PROGRES INDUSTRI PETROKIMIA DI INDONESIA, 2010
(Ditengah Persaingan Pasar Bebas)
Agustus 2010

Setelah mengalami tekanan krisis ekonomi global yang dimulai pada kuartal IV tahun 2008, memasuki tahun 2009, industri petrokimia di Indonesia mulai menunjukkan pemulihan. Salah satu indikasi berkembangnya industri petrokimia, misalnya tercermin dari meningkatnya konsumsi bahan baku plastik yang dihasilkan industri petrokimia hulu olefin. Oleh karena itu, produsen petrokimia hulu olefin, aromatik maupun yang berbasis gas alam (C1) merencanakan untuk menambah kapasitas produksi dengan tujuan untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan.

Sementara itu, Kementrian Perindustrian telah menetapkan Road Map Pengembangan Klaster Industri Petrokimia masing-masing di provinsi Banten, Kalimantan Timur dan Jawa Timur dengan tujuan industri hulu, tengahan (intermediate) dan hilir petrokimia berada dalam satu kawasan. Sehingga lebih efisien dan dalam pemasarannya mampu bersaing dengan produsen petrokimia dikawasan regional maupun internasional. Untuk itu, satu-satunya olefin center di Indonesia yaitu Chandra Asri (CA) milik Barito Pacific misalnya tengah melakukan studi kelayakan (prefeasibility study) untuk membangun naphta cracker berkapasitas 300.000 barel per hari senilai US$5 – US$7 miliar yang terintegrasi dengan plant olefin center di Cilegon, Banten. Sedangkan pengadaan minyak mentah rencananya akan dipasok Aramco dengan jangka waktu kontrak sedikitnya 15 tahun. 

Selain CA, menurut rencana, Pertamina juga akan membangun plant refinery senilai US$ 3 miliar di Cilegon, Banten yang bekerja sama dengan National Iranian Oil Refining and Distribution Company dan Petrofield Malaysia. Kilang minyak berkapasitas 150.000 barrel per hari (bph) untuk tahap pertama ini dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2015.

Sedangkan plant aromatic center di Indonesia yang dioperasikan Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur dan mulai beroperasi komersial pada Agustus 2006, akan melakukan ekspansi kapasitas produksi paraxylene (PX) sebesar 600.000 ton per tahun, dengan investasi senilai US$ 500 juta. Sehingga kelak, TPPI memiliki kapasitas produksi PX sebesar 1,15 juta ton per tahun. Proyek ekspansi ini dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2011. Sementara kebutuhan kondensat untuk bahan baku plant paraxylene yang mencapai sekitar 100.000-120.000 barel per hari, rencananya akan dipasok Qatar Gas.

Ditengah pemulihan itu, industri petrokimia di Indonesia masih tetap mengalami hambatan terutama terkait pengadaan bahan baku untuk industri hulu petrokimia. Sebagai gambaran, hingga kini ketergantungan terhadap bahan baku naphtha untuk olefin center dan kondensat untuk aromatik center cukup tinggi. Menurut catatan INAplas, pada tahun 2010, nilai impor naphtha diperkirakan mencapai US$ 1,66 miliar atau naik dari US$ 1,02 miliar pada tahun 2009. Selain itu, dengan dibebaskannya tarif bea masuk impor menjadi 0% sejalan dengan berlakunya AFTA dan ACFTA dan 15% untuk bea masuk impor dari luar kawasan Asean (Most Favoured Nations/MFN) maka  persaingan bisnis petrokimia akan semakin ketat.    
Sementara itu, kebutuhan gas alam dari dalam negeri untuk industri amoniak dan urea terbatas karena sebagian besar gas alam diekspor untuk memenuhi kontrak penjualan jangka panjang. Sehingga kondisi ini akan menghambat program revitalisasi industri pupuk yang tergolong industri petrokimia hulu berbasis gas alam (C1). Seperti diketahui, melalui Inpres No.2/2010, pemerintah telah menetapkan program revitalisasi industri pupuk yang bertujuan untuk membangun pabrik pupuk baru untuk menggantikan pabrik pupuk yang sudah tidak efisien. Pusri misalnya akan membangun tiga plant baru urea yaitu Pusri II B, III B dan IV B senilai US$ 2,4 miliar dengan total kapasitas produksi 2,97 juta ton per tahun. Selain itu untuk substitusi bahan bakar boiler dari gas ke batubara, hampir semua BUMN pupuk merencanakan untuk membangun boiler batubara. Salah satunya adalah proyek boiler batubara Pupuk Kaltim yang menyerap investasi senilai US$ 62 juta dan Rp 394 miliar. Proyek yang ditandatangani pada 7 Desember 2009 ini tengah digarap Inti Karya Persada Teknik (IKPT).

Berbeda dengan Indonesia, pengembangan industri petrokimia di kawasan Asean lainnya cukup pesat. Singapura misalnya yang tidak memiliki sumber bahan baku migas, justru saat ini menjadi produsen terbesar petrokimia yang diikuti Malaysia dan Thailand. Pada Mei 2010, Singapura mulai mengoperasikan plant refinery yang terintegrasi dengan plant petrokimia hulu sejalan dengan beroperasinya Shell Eastern Petrochemicals Complex (SEPC) yang berlokasi di Pulau Bukom dan Jurong. SEPC yang dibangun dengan investasi senilai US$ 4 miliar ini menghasilkan beberapa produk petrokimia hulu dan tengahan, seperti ethylene (800.000 ton per tahun), propylene (450.000 ton per tahun), benzene (230.000 ton per tahun), mono ethylene glycol/MEG (750.000 ton per tahun) dan butadine (155.000 ton per tahun). Sementara setelah merampungkan proyeknya, sejak Maret 2009, kapasitas produksi plant BTX yang dioperasikan PTT Aromatics and Refining Public Company Limited, Thailand masing-masing benzene (662.000 ton/tahun), cyclohexane (200.000 ton/tahun), PX (1.195.000 ton/tahun), OX (66.000 ton/tahun), MX (76.000 ton/tahun) dan toluene (60.000 ton/tahun).

Seperti diketahui, industri hulu petrokimia tergolong industri padat modal dan teknologi, sehingga selama ini pendanaan untuk proyek-proyek besar di industri ini, umumnya berasal dari sindikasi perbankan dalam negeri maupun asing. Selain itu, adanya jaminan pasok bahan baku (security of supply) untuk pembangunan proyek baru merupakan persyaratan utama perbankan untuk memberikan pinjaman.

Secara keseluruhan, relatif stabilnya harga minyak mentah di pasar dunia merupakan peluang bagi produsen petrokimia maupun investor untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan industri petrokimia hulu, tengahan (intermediate) dan hilir di Indonesia. Sehingga ditengah persaingan AFTA, ACFTA dan AIFTA, produsen petrokimia mampu bersaing untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan meraih devisa dari pasar ekspor. 

Laporan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan industri petrokimia dan proyek-proyeknya. Pembahasannya meliputi neraca perdagangan impor dan ekspor produk-produk petrokimia hulu, tengahan dan hilir, antara lain meliputi industri hulu aromatik dan derivatnya, industri hulu olefin dan derivatnya, serta industri hulu petrokimia yang berbasis gas alam dan derivatnya.
Selain itu, dibahas juga mengenai kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri petrokimia. Cakupan pembahasannya meliputi, struktur industri petrokimia di Indonesia, perkembangan produksi, ketersediaan bahan baku untuk industri petrokimia hulu, kecenderungan pasar produk petrokimia dan hambatan serta peluang pengembangan industri petrokimia.

Kami berharap, studi Perkembangan Industri Petrokimia di Indonesia, Agustus 2010  (Ditengah Persaingan Pasar Bebas) ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di industri petrokimia. Studi ini juga bermanfaat bagi kalangan bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan industri petrokimia seperti sektor perbankan, jasa asuransi, perkapalan dan perdagangan. Selain itu, studi ini juga bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang aktif di bisnis produk petrokimia di Indonesia saat ini.

Laporan studi ini ditulis menjadi sekitar 350 halaman dengan harga Rp 6.500.000 per copy untuk Bahasa Indonesia dan US$ 850 per copy untuk versi Bahasa Inggris dengan nilai tukar dapat dinegosiasikan. Untuk pemesanan dan informasi lebih lanjut mengenai studi ini dapat menghubungi PT Mediadata Riset Indonesia melalui telepon : 021-809 6071 dan ‘mobile phone’ : 0812-10315177 (Sumadi) atau melalui faximile 021-809 6071 dengan mengisi formulir terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambah biaya kirim. Demikian penawaran ini dan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.


Jakarta, Agustus 2010
PT Media Data Riset

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar